Gawat Darurat:
(0285) 785299

SEMINAR DIAGNOSIS DAN PENGELOLAAN GANGGUAN GAGAL GINJAL DALAM RANGKA SOFT OPENING UNIT HEMODIALISA RSI PKU MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN

 

SEMINAR DIAGNOSIS DAN PENGELOLAAN GANGGUAN GAGAL GINJAL

DALAM RANGKA SOFT OPENING UNIT HEMODIALISA

RSI PKU MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN

 

Hemodialisa merupakan salah satu tindakan untuk mengatasi gangguan fungsi ginjal. Gangguan fungsi ginjal ada dua akut dan kronik. Gagal ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal secara progresif dan ireversibel. Kriteria lain dari GGK adalah terdapat tanda kerusakan ginjal seperti terjadinya albuminuria, adanya sedimen urin, abnormalitas elektrolit yang disebabkan oleh penyakit tubular, riwayat transplantasi ginjal serta penurunan nilai GFR hingga kurang dari 60 ml/menit/1,73m2. Gagal ginjal kronik biasanya timbul beberapa tahun setelah penyakit atau kerusakan ginjal, tetapi pada situasi tertentu dapat muncul secara mendadak (Price, 2005: 813). Pasien GGK dengan nilai GFR kurang dari 15 ml/menit/1,73m2perlu dilakukan inisiasi hemodialisis atautransplantasi ginjal (KDIGO, 2013).

Menurut laporan tahunan dari Yayasan Ginjal Diatrans Indonesia (YGDI) pada tahun 2006, diperkirakan jumlah penderita penyakit ginjal kronik di Indonesia sebanyak 150 ribu pasien. Dari jumlah total pasien tersebut 21% berusia 15-34 tahun, 49% berusia 35-55 tahun, dan 30% berusia diatas 56 tahun. Dari tahun ke tahun jumlah penderita gagal ginjal di Indonesia meningkat hingga 100 persen. Mulai tahun 2009 tren jumlah penderita gagal ginjal yang menjalani cuci darah, terus bertambah. Awalnya hanya sekitar 2.300 penderita, kemudian bertambah hingga mencapai 3 ribu lebih.

Menurut 5th AnnualReport of Indonesian Renal Registry (IRR) jumlah pasien hemodialisis baru dan pasien hemodialisis aktif di Indonesia dari tahun 2007 terus meningkat hingga tahun 2012. Pada tahun 2007 jumlah pasien baru HD sebanyak 4.977 pasien dan pasien aktif HD 1.885 pasien, sementara pada tahun 2012 jumlah pasien baru HD 19.621 pasien dan pasien aktif HD 9.161 pasien (PERNEFRI, 2013).

 

Penyakit penyebab pasien hemodialisis pada tahun 2012 menurut data PERNEFRI disajikan pada tabel II (PERNEFRI, 2013).

Tabel II. Persentase Diagnosa Penyakit Penyebab Pasien HD di Indonesia Menurut Data PERNEFRI Tahun 2012 (PERNEFRI, 2013)

 

Penyakit Penyebab Persentase (%)
Ginjal Hipertensi 35
Nefropati Diabetika 26
Glumerulopati Primer/GNC 12
Nefropati Obstruksi 8
Pielonefritis kronik/PNC 7
Lain-lain 6
Nefropati Asam Urat 2
Nefropati Lupus/SLE 1
Ginjal Polikistik 1
Tidak diketahui 2
Jumlah 100

Berdasar dari latar belakang tersebut diatas RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan – Pekalongan mengadakan seminar diagnosis dan pengelolaan gagal ginjal sekaligus soft opening Pelayanan baru yaitu Pelayanan Hemodialisa ( cuci darah) ujar ketua Panitia dr. Faradila Soraya

Adapun tujuan dari seminar ini adalah : meningkatkan Pemahaman Peserta tentang penyebab, faktor resiko, diagnosis dan tatalaksana gagal ginjal,meningkatkan  peran  serta tenaga kesehatan dalam deteksi dan penanganan gagal ginjal,mengetahui pola pengobatan pada pasien gagal ginjal kronik dengan hemodialisis,memperluas wawasan peserta dalam menerapkan hidup sehat dan produktif dengan gagal ginjal.

Seminar diagnosis dan pengelolaan gagal ginjal dilaksanakan Sabtu, 26 Agustus 2017 di STIKES Kampus 2, peserta seminar terdiri dari tamu undangan ( Kepala Dinas Kesehatan Kab& Kota Pekalongan, Batang, Direktur RS sekitar, Kepala Puskesmas wil Kab.Pekalongan, Organisasi Profesi IDI,PPNI, IBI, PDM & PDA Kab Pekalongan, PCM & PCA Pekajangan, Kepala kelurahan sekitar RS, Pasien dengan gagal ginjal), Dokter, Perawat, Bidan dan dari umum. Pembicara dalam seminar ini sebagai moderator adalah dr. Hj.Ida Irianti, Sp.PD Finasim beliau juga sebagai dokter Penanggung jawab HD di RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan, DR.dr. Lesatariningsih, W.B., SpPD. K-GH. Finasim beliau sebagai Ketua PERNEFRI Jawa Tengah dan DIY dan juga sebagai dokter Konsultan Hemodialisa di RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan, dr. Nur Anna Chalimah, Sp.PD., Finasim (Dosen FK Universitas Sultan Agung Semarang),dr. Moh. Hasyim Purwadi,M.Kes (IDI Cab.Pekalongan) Rita Dwi Hartanti M.Kep.,Ns.,Sp.Kep.,M.B ( Dosen STIKES Muhammadiyah Pekajangan). Dalam materinya dr. Nur Anna Chalimah, Sp.PD., Finasim jika Diabetes Melitus tidak segera ditangani akan terjadi komplikasi salah satu diantaraanya adalah gagal ginjal, ada 2 Pencegahan yang pertama adalah Pencegahan Primer : pengaturan diet, Olah raga teratur ; Pencegahan Sekunder : pengendalian kadar gula darah, pengendalian tekanan darah; Pencegahan Tersier : Periksakan diri ke dokter.

 

dr.Maskuri,M.Kes (direktur RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan) berharap dengan  adanya pelayanan baru unit Pelayanan Hemodialisa di RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan bisa membantu memberikan pelayanan cuci darah bagi pasien – pasien gagal ginjal yang membutuhkan cuci darah, sehingga umur harapan hidup bagi pasien  dengan gagal ginjal bisa meningkat. RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan sudah bekerjasama dengan BPJS Kesehatan untuk pelayanan Hemodialisa.

 

 

Sumber:

Ka.Humas & Pemasaran

(Dewi Rosalina, S.Kep)

Publish on September 5th, 2017